Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental dan Konsep
Kesehatan Mental
SEJARAH
KESEHATAN MENTAL
Kesehatan mental? jika mendengar dua
kata tersebut, mungkin banyak orang yang belum mengerti apa itu kesehatan
mental dan bagaimana asal usul atau sejarahnya sampai ada pembelajaran tentang
kesehatan mental khususnya bagi ilmu psikologi.
Sejarah kesehatan mental tidak
seperti sejarah ilmu kedokteran yang dengan jelas tergambarkan. Hal itu
disebabkan karena “Mental” adalah sesuatu yang tidak dapat dengan jelas
terlihat oleh kasat mata. Sedangkan gangguan fisik dapat dengan mudah kita
lihat dan dapat dengan mudah terdeteksi. Individu yang terkena gangguan
kesehatan mental sangat sulit untuk diketahui, bahkan bagi orang terdekatnya
sekalipun. Karena orang-orang yang terdekatnya hanya menganggap hal itu sebagai
hal yang biasa, bukan sebagai gangguan.
Di negara kita khususnya masyarakat
Indonesia, masalah kesehatan mental sampai saat ini belum terlalu mendapatkan
perhatian yang serius. Semua itu dikarenakan taraf pendidikan yang masih
beragam dan budaya yang beragam pula sehingga membawa dampak kurangnya kepekaan
masyarakat akan pentingnya kesehatan mental.
Berikut ini perkembangan sejarah kesehatan mental :
GANGGUAN
MENTAL TIDAK DIANGGAP SEBAGAI SAKIT
·
Pada Tahun 1600 dan Sebelumnya
Suku asli Indian khususnya dukun
indian menyimpulkan, orang yang mengalami gangguan mental dapat disembuhkan
dengan cara menggunakan kekuatan supranatural dan menjalani ritual penyucian.
Masyarakat indian pada saat itu mengaggap
orang yang terkena gangguan mental itu sebenarnya orang yang kemasukan roh-roh
yang ada di sekitar mereka. Mereka menganggap kalau orang yang bersangkutan
telah melakukan kesalahan sehingga kemasukan roh. Maka dari itu orang Indian
tidak menganggap orang yang terkena gangguan mental itu berarti sakit, sehingga
mereka tetap masih dapat tinggal hidup bersama.
·
Tahun 1692
Sejarah kesehatan mental di Eropa
(Inggris), sedikit berbeda dengan sejarah di waktu sebelumnya.
John Locke (1690), menyatakan bahwa
terdapat derajat kegilaan dalam diri setiap orang yang disebabkan oleh emosi
yang memaksa orang untuk memunculkan ide-ide salah dan tidak masuk akal secara
terus menerus. Kegilaan adalah ketidakmampuan akal untuk mengeluarkan gagasan
yang berhubungan dengan pengalaman secara tepat.
GANGGUAN
MENTAL DIANGGAP SEBAGAI SAKIT
·
Tahun 1724
Pada abad ke
19, Phillipe Pinel di Perancis dan Dorothea Dix, membuat lompatan besar dengan
mempromosikan penanganan manusiawi bagi penderita penyakit mental tetapi
kondisinya masih jauh dari ideal. Phillipe pinel ditunjuk sebagai dokter yang
mengawasi pasien rumah sakit jiwa. Dia tidak merantai orang yang sakit jiwa.
·
Tahun 1812
Antara tahun
1830-1860 di Inggris timbul optimisme dalam menangani pasien skit jiwa. Pada
masa ini tumbuh kepercayaan bahwa penanganan di rumah sakit jiwa merupakan hal
yang benar dan cara ilmiah untuk menyembuhkan kegilaan. Pada tahun 1842
psikiater mulai masuk dan mendapatkan peranan penting di rumah sakit untuk
menggantikan ahli hukum yang selama itu berperan. Namun karena penanganan di masa ini banyak
menemukan kegagalan, maka tidak lama muncul terapi pesimisme.
·
Tahun 1843
Kurang lebih
terdapat 24 rumah sakit, tetapi hanya ada 2561 tempat tidur yang tersedia untuk
menangani penyakit mental di Amerika Serikat.
·
Tahun 1908
Ditahun ini seseorang yang mengalami
gangguan mental mendapat penanganan di rumah sakit yang tidak manusiawi dan
mengalami penyiksaan fisik dan mental dibawah kekuasaan yang tidak terlatih dan
tidak kompeten dirumah sakit.
·
Tahun 1909
Sigmund
Freud mengunjungi Amerika dan mengajar psikoanalisa di Universitas Clark di
Worcester, Massachusetts.
·
Tahun 1910
Emil
Kraepelin pertama kali menggambarkan penyakit Alzheimer. Dia juga mengembangkan
alat tes yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya gangguan epilepsi.
·
Tahun 1918
Asosiasi Psikoanalisa Amerika
membuat aturan bahwa hanya orang yang btelah lulus dari sekolah kedokteran dan
menjalankan praktek psikiatri yang dapat menjadi calon untuk pelatihan
psikoanalisa.
·
Tahun 1930
Psikiater
mulai menginjeksikan insulin yang menyebabkan shock dan koma sementara sebagai
suatu treatmen untuk penderita schizofrenia.
·
Tahun 1936
Agas Moniz
mempublikasikan suatu laporan mengenai lobotomi frontal manusia yang pertama.
Akibatnya antara tahun 1936 sampai pertengahan 1950-an, diperkirakan 20000
prosedur pembedahan ini digunakan terhadap pasien mental Amerika.
·
Tahun 1940
Elektroterapi,
yaitu terapi dengan cara mengaplikasikan listrik ke otak. Pertama kali
digunakan di rumah sakit Amerika untuk menangani penyakit mental.
·
Tahun 1947
Fountain
House di New York City memulai rehabilitasi psikiatrik untuk orang yang
mengalami sakit mental.
·
Tahun 1950
Dibentuk
National Association of Mental Health (NAMH) yang nerupakan merger dari tiga
organisasi, yaitu National Committee for Mental Hygiene, National Mental Health
Foundatio, dan Psychiatric Foundation.
·
Tahun 1952
Obat
antipsikokotik konvensional pertama, yaitu chlorpromazine, diperkenalkan untuk
menangani pasien schizofrenia dan gangguan mental utama lainnya.
·
Tahun 1960
Obat-obat
antipsikotik konvensional, seperti haloperidol, digunakan pertama kali untuk
mengontrol simtom-simtom yang positif pada penderita psikosis, yang memberikan
ukuran yang nyata dan penting karena membuat pasien tenang.
Media
inggris mulai mengungkapkan kesehatan mental dengan menampilkan orang-orang
yang pernah mengalami sakit mental untuk menceritakan pengalaman mereka. Segala
hal yang tabu mulai diungkap secara umum.
GANGGUAN
MENTAL DIANGGAP SEBAGAI BUKAN SAKIT
·
Tahun 1961
Thomas Szasz
membuat tulisan berjudul The Myth of Mental Illness, yang mengemukakan dasar
teori yang menyatakan bahwa “sakit mental” sebenarnya tidaklah benar-benar
“sakit’, tetapi merupakan tindakan orang yang secara mental tertekan karena
harus bereaksi terhadap lingkungan.
·
Tahun 1962
Ada 422000 orang yang tinggal di
rumah sakit untuk perawatan psikiatris di Amerika Serikat.
·
Tahun 1970
Mulainya
deinstitusionalisasi massal. Pasien dan keluarga mereka kembali pada
sumber-sumber mereka sendiri sebagai akibat kurangnya program-program bagi
pasien yang telah keluar dari rumah sakit untuk rehabilitasi dan reintegrasi
kembali ke masyarakat.
·
Tahun 1979
NAMH menjadi
the National Mental Health Association (NMHA).
·
Tahun 1980
Munculnya
perawatan yang terencana, yaitu dengan opname di rumah sakit dalam jangka waktu
yang pendek dan treatmen masyarakat menjadi standar bagi perawatan penyakit
mental.
MELAWAN
DISKRIMINASI TERHADAP GANGGUAN MENTAL
·
Tahun 1990
NMHA
memainkan peran penting dalam memunculkan Disabilities
Act, yang melindungi warga Amerika yang secara mental dan fisik disable dari diskriminasi pada beberapa
wilayah, seperti pekerjaan, akomodasi publik, transportasi, telekomunikasi, dan
pelayanan pemerintah pusat dan lokal.
·
Tahun 1994
Obat
antipsikotik atipikal yang pertama diperkenalkan. Ini merupakan obat
antipsikotik baru pertama setelah hampir 20 tahun penggunaan obat-obatan
konvensional.
·
Tahun 1997
Peneliti
menemukan kaitan genetik pada gangguan bipolar yang menunjukkan bahwa penyakit
ini diturunkan.
Berdasarkan
sejarah kesehatan mental tersebut, dapat disimpulkan bahwa ternyata pandangan
masyarakat terhadap apa yang disebut sebagai sakit mental atau sakit jiwa
ternyata berbeda-beda dan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Makna
gangguan mental yang berbeda-beda membawa implikasi yang berbeda juga dalam
menangani individu yang terkena gangguan mental.
Gangguan
mental juga bisa dinamakan bukan penyakit, tetapi sebagai tindakan kriminal
seperti yang pernah dipahami oleh masyarakat Inggris. Penderitanya dimasukkan
ke dalam penjara.
Gangguan
mental pernah dinamaknai sebagai ketidakmampuan untuk berpikir rasional. Orang
yang terganggu mentalnya dipandang memiliki pola pikir irasional. Hal ini
dipengaruhi oleh filsafat rasionalisme dan empirisme yang saat itu memiliki
pengaruh yang kuat di Eropa.
KESIMPULAN :
Sejarah kesehatan mental merupakan
cerminan pandangan masyarakat terhadap gangguan mental dan perlakuan yang
diberikan. Ada beberapa pandangan masyarakat terhadap gangguan mental di dunia
Barat, yaitu :
1.
Akibat
kekuatan supranatural
2.
Kemasukan
roh atau setan
3.
Dianggap
kriminal karena memilih derajad kebinatangan yang besar
4.
Dianggap
memiliki cara berpikir irasional
5.
Dianggap
sakit
6.
Merupakan
reaksi terhadap tekanan atau stres, merupakan perilaku maladaptif
7.
Melarikan
diri dari tanggungjawab
KONSEP
KESEHATAN MENTAL
A. Pengaruh
Budaya Terhadap Konsep Sehat dan Sakit serta Implikasinya terhadap Perilaku
1.
Arti Sehat
Menurut
Freund (1991), berdasarkan kutipan the
International Dictionary of Medicine and Biology, kesehatan adalah suatu
kondisi yang dalam keadaan baik dari suatu organisme atau bagiannya, yang
dicirikan oleh fungsi yang normal dan tidak adanya penyakit, juga sampai pada
kesimpulan mengenai kesehatan sebagai suatu keadaan tidak adanya penyakit
sebagai salah satu ciri kalau organisme disebut sehat.
2.
Pengaruh Budaya terhadap Konsep
Kesehatan
Pengaruh
budaya juga merupakan penentu konsep kesehatan. Hal ini mengacu pada pengertian
kesehatan yang dibuat oleh WHO, yaitu kesehatan adalah keadaan (status) sehat
utuh secara fisik, mental (rohani) dan sosial, dan bukan hanya suatu keadaan
yang bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan.pengertian itu berdampak
kebijakan di bidang kesehatan mengalami perubahan.
Berbagai
teknologi modern ditemukan sehingga berbagai macam penyakit dan gangguan
lainnya bisa diatasi. Saat ini usaha-usaha itu mengalami pergeseran. Upaya
kesehatan saat ini mengacu kepada usaha pencegahan terhadap kemungkinan
menurunnya kualitas hidup individu sehingga kondisi sehat bisa dijaga
sedemikian rupa dan penyakit tidak sampai dialami oleh individu. Bidang-bidang
baru mulai bermunculan, seperti sosiologi kesehatan, antropologi kesehatan,
psikologi kesehatan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Perhatian mengenai
kesehatan dalam kaitannya dengan keanekaragaman budaya juga menjadi salah satu
bidang kajian yang diminati oleh psikologi lintas budaya (Berry, 1999).
3.
Model-model Kesehatan Barat dan
Timur
Model-model
kesehatan muncul karena banyaknya asumsi mengenai kesehatan, seperti halnya
model kesehatan dari Barat dan juga Timur. Akan tetapi, dalam model-model itu
terdapat variasi yang disebabkan karena adanya perbedaan budaya di antara
model-model tersebut.
Model Biomedis (Freund, 1991)memiliki 5 asumsi. Pertama, terdapat perbedaan yang nyata
antara tubuh dan jiwa sehingga penyakit diyakini berada pada suatu bagian tubuh
tertentu. Kedua, penyakit dapat
direduksi pada gangguan fungsi tubuh, baik secara biokimia atau
neurofisiologis. Ketiga, setiap
penyakit disebabkan oleh suatu agen khusus yang berpotensi dapat
diidentifikasi. Keempat, melihat tubuh
sebagai suatu mesin. Kelima, konseb
tubuh adalah objel yang perlu diatur dan dikontrol.
Model
Psikiatris, merupakan model yang berkaitan dengan model biomedis. Model ini masih
mendasarkan diri pada pencarian bukti-bukti fisik dari suatu oenyakit dan penggunaan
treatmen fisik obat-obatan atau pembedahan untuk mengoreksi
abnormalitas.
Model
Psikosomatis (Tamm, 1993), merupakan model yang muncul karena
adanya ketidakpuasan terhadap model biomedis. Model ini menyatakan bahwa tidak
ada penyakit somatik yang tanpa disebabkan oleh antesenden emosional dan atau
sosial. Sebaliknya tidak ada penyakit psikis yang tidak disertai oleh
simtom-simtom somatik.
4.
Pemahaman Tentang Penyakit
Istilah
penyakit terbagi ke dalam dua istilah, yaitu Illness dan Disease. Kata
Illness digunakan untuk menyatakan
apa yang dirasakan oleh pasien ketika dia datang ke dokter. Sedangkan kata Disease untuk menyatakan apa yang dibawa
pasien ke rumah sakit dari ruangan dokter. Dengan demikian penyakit “Disease” adalah sesuatu yang dimiliki
organ, sedangkan “Illness” adalah
sesuatu yang dimiliki manusia, yaitu respons subjektif pasien dan segala
sesuatu yang meliputinya.
5.
Implikasi Perbedaan Konsep Kesehatan
dan Penyakit terhadap Perilaku
Istilah-istilah
yang digunakan dalam dunia kesehatan :
Diagnosis, gangguan yang sama dan bisa
dilaporkan dengan gejala yang berbeda.
Treatmen, pengobatan sistem Barat bertumpu
pada pemberian obat antibiotik atau pembedahan pada bagian-bagian tubuh yang
sakit.
Plasebo, pada pengobatan Barat memiliki
konotasi yang negatif sehingga sering kali dicoba untuk dihilangkan atau
diminimalkan pengaruhnya oleh dunia kedokteran Barat.
Relasi dokter-pasien, pada sistem pengobatan Barat
bercirikan mekanistik, impersonal, dan reduksionistik. Dokter mengambil sikap
lebih tahu dari pasien, superior serta keputusan. Sementara pasien mengambil
sikap pasif serta diharapkan menuruti apa yang dimaui dokter.
Perbedaan Konsep Kesehatan Mental Barat dan Timur
Perbedaan pandangan
mengenai konsep kesehatan mental Barat dan Timur adalah, kesehatan mental di
Barat lebih memandang kesehatan bersifat dualistik, yaitu mengibaratkan manusia
sebagai mesin yang sangat dipengaruhi oleh dominasi medis. Sedangkan di Timur
kesehatan mental lebih bersifat holistik, yaitu melihat sehat lebih secara
menyeluruh dan saling berkaitansehingga berpengaruh pada cara penanganan
terhadap penyakit.
http://ajengfebriyanti27.blogspot.com/2012/03/sejarah-perkembangan-kesehatan-mental.html
Whitbourne,Halgin.Psikologi
Abnormal.Jakarta:Salemba Humanika.2010